Ketua umum organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB), Hercules Rozario Marcal. TEMPO/Subekti
READ MORE - Hercules Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara
Warga diberondongi peluru senapan aparat yang membuat keadaan desa tersebut sangat mencekam.
Penembakan Brimob terhadap warga tersebut menimbulkan satu korban meninggal yakni bernama Angga (13) dan tiga warga lainnya mengalami luka cukup serius.
"Pokoknya, mereka menembaki kami seperti teroris. Gak menembak di atas atau peringatan, tapi mereka juga mengejar warga," kata seorang perangkat desa.
Dari informasi yang dihimpun, terdapat sekitar tujuh mobil dan sekitar ratusan anggota polisi lengkap dengan persenjataan baik tameng, maupun senapan. Mereka memasuki Desa Limbang Jaya, sekitar pukul 15.00.
Ketika rombongan itu memasuki desa tersebut, mobil polisi yang paling belakang dilempar batu. Mendapati kendaraan polisi ada yang melempar, anggota Brimob berhenti dan bertemu dengan aparat desa.
Setelah melakukan pembicaraan dan berangsur damai, rombongan polisi pun kembali melanjutkan patroli. Namun, di tengah perjalanan hendak berpatroli, pelemparan batu terjadi lagi. Dari situlah, anggota polisi bersenjatakan lengkap membabi buta menembaki warga.
Sebelum peristiwa pelemparan batu pertama kalinya dan polisi ditenangkan aparat desa, warga sekitar sudah berkumpul lantaran ingin mengetahui apa yang terjadi.
Mendapat lemparan batu yang belum tahu asal-usulnya, polisi yang beranggotakan Brimob menyerang dan menembaki warga yang tengah berkumpul tersebut dengan berondongan peluru.
Sontak, warga yang tadinya berkumpul dan mengetahui gempuran peluru, kocar-kacir dan tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing. ( tribunnews.com )

Ia mengukuhkan hal tersebut menyusul laporan yang muncul di mingguan Australia, The Sunday Times, bahwa anggota kelompok bermotor Coffin Cheaters memiliki bisnis di Kuta, Bali. Para anggota kelompok ini dan sejumlah kelompok lain mengenakan seragam masing-masing di beberapa klub dan bar di Bali.
Anticich adalah perwira yang banyak mengetahui seluk-beluk geng bermotor. Ia mengatakan bahwa Cheaters memiliki klub di Bali dan sejumlah kelompok bermotor "secara agresif memperluas jaringan mereka ke luar negeri dengan membeli klub-klub kecil di sana".
"Data intelijen yang kami kumpulkan menunjukkan, kelompok ini memperluas jaringan di negara-negara Asia Tenggara, di mana amfetamin dan bahan-bahan kimia untuk membuat amfetamin mudah didapat." katanya.
"Juga ada info bahwa kelompok ini berada di sana untuk melakukan pencucian uang," ujar Anticich.
Geng bermotor lain di Bali termasuk Bandidos dan Rock Machine.
"Hukum antinarkoba yang ketat di Bali membuat anggota kelompok geng ini tidak melakukan kegiatan tersebut. Namun, mereka mungkin terlibat dalam mendapatkan bahan kimia untuk membuat obat-obatan. Di banyak negara, bahan tersebut murah, mudah didapat, bukan hal yang terlarang, dan bisa dibeli dalam jumlah besar," ujarnya.
Seorang sumber di kepolisian WA mengatakan, Bali menjadi surga kelompok narkoba internasional karena kurangnya teknologi guna mendeteksi berbagai narkoba yang masuk.
Anticich mengatakan, meskipun Indonesia meratifikasi Konvensi PBB tentang Perdagangan Terlarang mengenai narkoba dan bahan-bahan psikotropika lebih dari 10 tahun lalu. Namun, masih belum ada kejelasan apa saja jenis obat yang terlarang.
Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya, geng bermotor di Australia adalah mereka yang biasanya berkelompok mengendarai sepeda motor gede, seperti Harley Davidson. Setiap kelompok memiliki seragam tertentu dan biasanya berkumpul di bar yang menjadi daerah "kekuasaan" mereka.
Kelompok ini sering terlibat dalam perseteruan, kebanyakan melibatkan perdagangan obat terlarang.
Khusus untuk Negara Bagian WA, kelompok ini sekarang dilarang mengenakan seragam di bar resmi. Pemerintah juga sedang menyiapkan perangkat hukum guna melarang kelompok kriminal seperti geng ini untuk berkumpul atau bahkan berhubungan satu sama lain.
Laporan menyebutkan, kelompok ini sudah menyebar ke beberapa negara Asia Tenggara. Kelompok Bandidos, misalnya, memiliki cabang di Thailand, Malaysia, dan Singapura, sedangkan Outlaws beroperasi di Thailand, Filipina, dan Jepang. ( kompas.com )
( tempo.co )