Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tentang "Haji Sandal Jepit"

Tentang "Haji Sandal Jepit" - Jamaah haji nonkuota dahulu dikenal dengan jamaah haji paspor hijau, karena jamaah haji beberapa tahun lalu menggunakan paspor cokelat. Kini, setelah jamaah haji menggunakan paspor hijau, jamaah nonkuota memiliki nama baru, jamaah haji sandal jepit.

Jamaah haji sandal jepit ini setiap tahun selalu saja ada dan mewarnai perhajian di Arab Saudi. Tak hanya berasal dari Indonesia, jamaah nonkuota ini juga datang dari luar negeri.

Awalnya jamaah haji nonkuota terjadi karena warga negara asing meminta visa haji ke Kedubes di mana dia tinggal saat ini. Sehingga dia pergi haji tidak termasuk ke dalam kuota yang telah ditetapkan Arab Saudi kepada negara asalnya. Ini pun biasanya tidak terlalu banyak, ada beberapa kelompok kecil, bahkan hanya satu-dua orang atau keluarga.

Muassasah sebagai lembaga pengelola haji Arab Saudi yang ditunjuk Kerajaan pun menerima mereka dan mengurusnya dengan baik. Karena di mata Arab Saudi dan Muassasah, mereka adalah Tamu-Tamu Allah yang harus mendapat pelayanan. Di kalangan Muassasah, haji sandal jepit ini disebut Furodah atau tidak masuk sistem atau nonkuota.


http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSGhouhwNIpVtkAWjggC72W9sij6Y35BxSrC7SOwAm9hOgVi1sVjg


Hal ini kemudian dijadikan 'peluang emas' bagi agen-agen perjalanan. Dengan mengolek uang yang sama besarnya dengan haji plus, Rp56-70 juta, pengelola bisa dapat untung besar. Karena mengelola haji jamaahnya sendiri, tanpa melalui kementerian agama dan fasilitas yang diberikan kepada jamaahnya juga di bawah standar haji plus.

Berbeda dengan haji plus yang harus mendaftar ke Kementerian Agama, mengantre untuk dapat kuota dan juga harus menyediakan fasilitas yang lebih kepada jamaahnya. Karena mereka dalam pengawasan Kemenag. Haji nonkuota hanya mengurus visa di Kedubes Arab Saudi saja.

Antrean panjang untuk ikut haji reguler dan haji plus di Kementerian Agama kerap kali menjadi branding mereka dalam menawarkan haji nonkuota. "Kalau bisa berangkat haji tahun ini, kenapa harus antre 7 tahun" mungkin itu 'jualan' para penyelenggara haji nonkuota ini agar masyarakat yang sudah tak sabar, lebih mengikuti bujuk rayuan mereka.

Sayangnya, ternyata orang yang ikut "haji sandal jepit" ini tidak sadar. Mereka mengaku ikut jamaah haji plus, karena mengeluarkan uang yang sama dengan haji plus. Ada dugaan penipuan di sini. Karena kebanyakaan calon korban berasal dari kampung, bukan kota besar.

Dalam praktek di lapangan agen-agen travel "nakal" ini juga seringkali tidak mementingkan pelayanan. Banyak jamaah haji sandal jepit ini yang terlantar. Tahun lalu, mereka tidak mendapatkan tenda di Arafah dan disusupkan ke tenda jamaah haji reguler oleh pihak Muassasah, akibatnya tenda menjadi sesak dan tidak nyaman. Kemenag tidak terima, akhirnya haji sandal jepit dikeluarkan dari tenda.

Tahun ini, haji sandal jepit yang dibawa agen perjalanan Cahaya MM dari Kalimantan, Nuncy Adi, meninggal dunia dan tidak terurus. Pengelola Cahaya MM berkilah tidak mengerti cara mengurus jenazah di Arab Saudi.

Akhirnya yang menjadi korban adalah jamaah haji sendiri. Padahal mereka yang ikut haji nonkuota bukan hanya orang kaya, ada di antara mereka yang juga memiliki ekonomi kelas sandal jepit. Menabung bertahun-tahun atau menjual harta benda seperti sawah, kebon hanya untuk ke Tanah Suci.

Di satu sisi mereka "terjepit" karena harus mengantre, sedangkan umur sudah semakin lanjut. Di sisi lain mereka terancam "dijepit" para agen-agen perjalanan. Jalan haji masyarakat ekonomi sandal jepit pun semakin sempit.

Pemerintah berupaya terus menjepit jalan-jalan mafia haji sandal jepit ini. Setelah berupaya melalui jalur diplomasi, kini mereka berupaya dengan penegakan hukum. Imbauan Menteri Agama yang diamini Dubes RI untuk Arab Saudi, cukup tegas "Tangkap pengelola haji sandal jepit".

Tapi pemerintah, dalam hal ini kementerian agama punya pekerjaan rumah yang juga penting yaitu memperpendek jangka waktu antrean haji.

Dua jurus di atas, penegakan hukum dan memperpendek waktu antrean, dapat menjadi "ilmu pamungkas" untuk menjepit jalan mafia haji sandal jepit. ( okezone.com )


READ MORE - Tentang "Haji Sandal Jepit"

Apakah Rindu Soeharto Pertanda Harus Ganti Rezim ... ???

Apakah Rindu Soeharto Pertanda Harus Ganti Rezim ... ??? - Kerinduan masyarakat terhadap era Soeharto dinilai sebagai pertanda pemerintah harus introspeksi diri. "Apakah (karena) aspek ekonomi tidak memuaskan, atau hukum tidak ditegakkan," ujar pakar politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Zuhro, Selasa 17 Mei 2011.

Zuhro menilai dari sisi politik, tak ada masalah besar yang dihadapi Indonesia dalam demokrasi, namun faktor penegakan hukum yang karut-marut boleh jadi menjatuhkan kredibilitas pemerintah di mata publik.

Penegakan hukum disebutnya sebagai basis demokrasi yang kuat. Penegakan hukum yang lemah membuat sistem pemerintahan menjadi lemah pula.

Pekan lalu, Indo Barometer merilis hasil survei bertajuk "Evaluasi 13 Tahun Reformasi dan 18 Bulan Pemerintahan SBY-Boediono". Ternyata, Soeharto menempati urutan pertama sebagai Presiden yang paling disukai responden.

Survei yang melibatkan 1.200 orang itu dilakukan pada 25 April hingga 4 Mei. 36,54 persen memilih Soeharto sebagai presiden favoritnya, lalu Susilo Bambang Yudhoyono 20,9 persen. Berikutnya Soekarno (9,8 persen), Megawati (9,2 persen), B.J. Habibie (4,4 persen), dan Abdurrahman Wahid (4,4 persen).

Adapun tingkat kepuasan publik terhadap SBY-Boediono, yang pada Agustus 2010 berada di tingkat 50,9 persen, melorot menjadi 48,9 persen dalam survei mutakhir itu.


http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQYXCdAujoYc8BhbVFGK0grzfHFHLbJPcsIFRrJOxnH5lnR7OTU



Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan mempertanyakan hasil survei Indo Barometer yang menyatakan era Soeharto lebih baik daripada pascareformasi. "Kalau era Soeharto lebih baik, saya mengajukan pertanyaan kepada hasil survei itu," kata Ramadhan.

"Apakah mereka setuju dengan adanya penembakan aktivis, penculikan aktivis, pemberangusan media massa, dan pelanggaran HAM. Setuju nggak mereka?" imbuhnya. "Kalau mereka tidak setuju, berarti hasil survei itu tidak mencerminkan rakyat."

Dari hasil survei Indo Barometer yang dirilis kemarin, Ahad 15 Mei 2011, responden yang menyatakan kondisi saat ini lebih baik hanya sebesar 22,8 persen dan 3,3 persen lainnya menyatakan Orde Lama lebih baik. Sedangkan 3,2 persen menyatakan semua pemerintahan sama buruknya dan 22,1 persen menjawab tak tahu.

Era pemerintahan Yudhoyono, menurut Ramadhan, jauh lebih baik dibandingkan era Orde Baru. Patokannya adalah angka kemiskinan yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik terus menurun. Jika ternyata hasil survei Indo Barometer menyatakan sebaliknya, kata dia, berarti sosialisasi dari tiap kementerian tidak berjalan dan "belum sampai ke masyarakat."

Politikus PDIP di DPR, Tubagus Hassanuddin, punya pendapat lain soal hasil survei itu. Menurutnya, fenomena itu lebih tepat dimaknai bahwa warga menginginkan orde yang lebih baik dari reformasi ini. "Itu bisa diartikan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono gagal dalam meningkatkan kinerjanya," ujarnya.

Siti Zuhro menilai naik-turun kepuasan masyarakat adalah hal yang wajar dan terjadi di seluruh dunia. "Seusai pemilihan umum legitimasinya tinggi, tingkat kepuasan masyarakat juga tinggi. Setelah itu angkanya turun, dan baru naik kalau membuat kebijakan bagus," tuturnya.

Bagaimanapun, dia mempertanyakan validitas jajak pendapat Indo Barometer itu. Pertama, apakah survei itu bisa mewakili pendapat seluruh rakyat Indonesia. Kedua, dia berpendapat masa Orde Baru dan reformasi tidak bisa disejajarkan untuk dibandingkan karena sangat berbeda. ( tempointeraktif.com )



READ MORE - Apakah Rindu Soeharto Pertanda Harus Ganti Rezim ... ???

Henk Ngantung, Gubernur DKI di era Soekarno


http://img.antara.co.id/stockphotos/tokoh/20100407220054-henkweb.jpg
Hendrik Hermanus Joel Ngantung


Henk Ngantung, Gubernur DKI di era Soekarno – Jika ditanya siapakah mantan Gubernur DKI Jakarta yang paling anda kenal? mungkin jawabannya adalah Ali Sadikin, Sutiyoso atau Fauzi Bowo yang sekarang sedang menjabat. Tapi, bagaimana dengan sosok Henk Ngantung, seorang Seniman Sketsa yang juga pernah menjadi menjadi Guburnur DKI Jakarta.


Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau lebih dikenal dengan sebutan Henk Ngantung, menjabat Gubernur DKI di era pemerintahan Presiden Soekarno periode 1964 – 1965. Sebelum diangkat menjadi Gubernur Henk mengawali karirnya sebagai seniman Sketsa otodidak yang kerap turut serta meliput beberapa peristiwa penting dan bersejarah di Indonesia dalam bentuk sketsa antara lain : Perundingan Linggarjati, Perundingan Renville,dan Perundingan Kaliurang.

“Lukisan perjanjian Renville dan karya lain Pak Henk semuanya ada di museum, semua peristiwa demi peristiwa pak Henk gambar,” kata Janda Henk Ngantung,Evie Ngantung (71).

Pada tahun 1957 dia diangkat menjadi ketua seksi dekorasi dalam panitia Negara Penerimaan Kepala –kepala Negara asing, Selanjutnya di tahun 1959-1966, menjadi anggota Pertimbangan Agung mewakili golongan Karya Seniman, 1959-1964 menjabat sebagai wakil Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota di bawah Soemarno. Pada saat itu banyak kalangan yang protes atas pengangkatannya.

Puncaknya ketika Presiden Soekarno ingin menjadikan Jakarta sebagai kota budaya, dia mengangkat Henk Ngantung menjadi Gubernur DKI Jakarta karena satu alasan : Henk memiliki jiwa Artistik yang tinggi.

Karya Henk Ngantung sebagai seorang seniman yang monumental antara lain adalah Sketsa Tugu Selamat Datang,Lambang DKI,dan Lambang Kostrad, selain itu ada juga lukisan seperti “memanah”,”Gadjah mada” dan peninggalan terakhirnya yang kini berada di pelelangan London Inggris bertajuk “Ibu & Anak di Kalimantan”.

Henk yang wafat di bulan Desember 1991 di kediaman terakhirnya di sebuah gang sempit perkampungan kawasan Cawang Jakarta timur meninggalkan seorang istri dan empat orang anak yaitu Evie Ngantung, dan 4 orang anak yaitu Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung dan Karno Ngantung yang meninggal pada usia 71 tahun karena sakit jantung.

Pecahnya peristiwa G30S PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1965, membuat karir Henk Ngantung sebagai Gubernur DKI Jakarta Berakhir.

Henk tiba-tiba diberhentikan bersamaan dengan pemberantasan G30S/PKI. Henk terlibat organisasi Lekra yang berafiliasi dengan PKI.

Sejak itu, kehidupan Henk dan Keluarga mulai mengalami kesulitan dengan dicap sebagai PKI yang membuat ruang geraknya baik secara sosial,politik dan ekonomi menjadi terpasung.

"Yang saya tahu persis waktu itu PKI sedang merancang sesuatu, mungkin mau bikin G30S, jadi mereka mau pak Henk Ngantung itu bekerjasama. Tapi, pak Henk pernah bilang saya kan bukan gubernur Lekra tapi gubernur Jakarta Raya DKI," Kenang Evie.

Setelah Berakhirnya Karir Henk Ngantung di Lingkungan Pemda DKI, dian melanjutkan hidup dengan tetap membuat sketsa dan lukisan yang dijual untuk menghidupi keluarga. Henk menempati rumah di kawasan Tanah Abang.

"Pak Henk pernah membuat lambang Kostrad dan lambang DKI, dari Kostrad saya dihargai oleh Kostrad sebagai anggota kehormatan Kostrad tapi kenapa kalian mau gubris - gubris saya sebagai PKI,” Kenang Evie.

Evie mengaku masa-masa yang paling sulit adalah ketika ia akan menyekolahkan anak-anak dan selalu diminta menunjukkan surat bersih dari PKI.

“Saya pernah datang menghadap pak Sudomo yang pada waktu itu menjabat sebagai Komkabtib dan menjelaskan bahwa kami sekeluarga di cap sebagai PKI dan harus ada surat bebas G30S jika ingin pergi kemanapun, dan pak Domo menjelaskan kalau pak Henk kan tidak pernah ditahan jadi untuk apa surat itu? tidak perlu kan, berarti memang tidak terlibat G30S tapi kenyataannya sudah terlanjur dicap,” ujar Evie.

Akibat adanya cap PKI, Henk dan Keluarga menjual rumah di Tanah Abang dan pindah ke perkampungan yang melewati gang sempit di kawasan Cawang Jakarta Timur.

“Kami menjual rumah di Tanah Abang karena sering dicap PKI yang membuat hidup kami susah, nggak enak seolah-olah mereka itu takut kepada kami dan lagipula kami tidak punya uang, tapi sekarang kami akrab sekali dengan tetangga-tetangga kami di sini,” Tutur Evie.

Setelah Henk wafat tahun 1991 Evie mengaku berjuang menghidupi keluarganya dengan jalan menjual lukisan karya Henk.

Evie tidak menerima uang pensiun suaminya hingga pada dasawarsa 80-an Pemda DKI memberi rapelan dana pensiun.

"Yang saya terima hanya uang pensiun saja sebagai penghargaan sebesar Rp830 ribu perbulan hingga sekarang. Kami tidak pernah dapat apa-apa dari pemda DKI dan dari pemerintah pun tidak ada," tutur Evie.

Henk Dan Tugu Selamat Datang

Tak banyak orang tahu kalau Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia itu lahir dari guratan tangan Henk Ngantung.

Tugu Selamat Datang yang menjadi Landmark Ibu Kota Jakarta itu memang dibuat oleh pematung Edhie Sunarso namun adalah Henk yang membuat sketsanya. Sepasang pemuda –pemudi melambaikan tangan seakan-akan menyambut orang datang.

Karya seni itulah yang kemudian menjadi dasar pembuatan Tugu Selamat Datang seperti diabadikan dalam buku “Sketsa-sketsa Henk Ngantung dari masa ke masa” yang disusun oleh Baharudin M.S dan diterbitkan Sinar Harapan di tahun 1981.

Sejak satu tahun yang lalu bergulir kasus mengenai penggunaan logo yang identik dengan sketsa Tugu Selamat datang karya Henk Ngantung dan digunakan oleh PT Grand Indonesia (GI). Perusahaan tersebut tidak mengakui bahwa logo tersebut dibuat terinspirasi berdasarkan karya seni hasil karya Henk Ngantung.

"Kalau seandainya Grand Indonesia itu membuat logo patung (Selamat Datang), urusannya adalah dengan Edhie Sunarso (seniman pembuat patung tersebut). Tapi ketika logonya adalah gambar dua dimensi maka ada sejarah yang menyatakan bahwa tugu itu dibuat dari suatu sketsa, "Kata Pengacara Keluarga Ngantung Andy I Nababan S.H.

Keluarga Ngantung sudah melakukan somasi terhadap GI namun belum ada titik temu. "Dulu kami sudah bicara persuasif baik baik tapi tidak ada tanggapan, , ya sudah kami akan tempuh upaya hukum ,itu fakta sejarah oleh karena itu kita perlu diakui, bahwa Tugu Selamat Datang dibuat berdasarkan sketsa hasil karya Henk Ngantung," tutur Andy.

Keluarga Ngantung mengaku tidak keberatan jika hasil karya Henk dikomersilkan tapi mereka meminta ada pengakuan bahwa logo tersebut dibuat berdasarkan sketsa karya Henk Ngantung.

Sementara itu, pihak GI mengemukakan logo Grand Indonesia hanya terinspirasi oleh tugu yang lokasinya di bundaran Jalan MH Thamrin.

"Logo Grand Indonesia adalah gambar yang menyerupai siluet dari patung itu (Tugu Selamat Datang), tetapi tidak persis dengan gambar aslinya. Kalau aslinya kan ada bunga-bunganya. Kami memang terinspirasi dengan patung itu karena hotel ini memiliki hubungan historis dengan patung tersebut. Jadi dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan seniman pembuat patung tersebut," kata Government and Corporate Affairs, PT Grand Indonesia, Koentjoro Noerwibowo kepada pers.

Logo Grand Indonesia itu, kata Koentjoro, telah dibuat oleh para tim kreatif pada tahun 2004, bahkan logo itu telah memiliki nilai legalitas dengan terdaftar pada Dirjen Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian HAM RI.
(ANTARA News)




READ MORE - Henk Ngantung, Gubernur DKI di era Soekarno

Ternyata Batik Memang Cantik

Ternyata Batik Memang Cantik. Warga Indonesia yang berada di kota-kota besar di luar negeri seperti Helsinki, Abu Dhabi dan Nurnbrg, maupun di dalam negeri seperti Jakarta dan Solo meluapkan kegembiraan mereka pada Jumat (2/10) dengan mengenakan baju batik.

Bundaran Monumen Havis Amanda, Helsinki, misalnya, menjadi pusat perayaan kegembiraan masyarakat Indonesia di Finlandia untuk menyambut pengakuan UNESCO atas batik sebagai warisan budaya Indonesia.

Begitu juga masyarakat Indonesia yang berdomisili di Nurnberg, Jerman. Spanduk yang ertuliskan "Herzlichen Glueckwunsch BATIK zur Anerkennung am 2.10.2009 als indonesisches Welt-Kulturerbe von der UNESCO" (Selamat atas dikukuhkannya Batik Indonesia sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009) diarak di sepanjang pusat kota itu.

Lain lagi di Praha, Ceko. Berbagai motif dan corak kain batik Yogyakarta dan Pesisiran dipamerkan selama dua bulan mulai 2 Oktober hingga 30 November di Java Cafe.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengenakan batik telah mendeklarasikan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

UNESCO mengakui Batik Indonesia dengan memasukkannya ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Takbenda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Tak-Benda di Abu Dhabi, pada 2 Oktober 2009.

Dubes Indonesia untuk Persatuan Emirat Arab (UAE) M. Wahid Supriyadi yang mengenakan batik turut serta menghadiri sidang yang bersejarah tersebut.

Bersama dengan Batik Indonesia, badan PBB itu telah menerima 111 nominasi elemen budaya dari 35 negara, dan hanya 76 yang diakui dan dimasukkan dalam daftar tersebut.

Sebelumnya pada tahun 2003 dan 2005, UNESCO telah mengakui Wayang dan Keris sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia (Masterpieces of the Oral and Intangible Cultural Heritage of Humanity) dan telah dimasukkan ke dalam Representative List pada tahun 2008.

Masuknya Batik Indonesia dalam dafatar merupakan pengakuan internasional terhadap salah satu mata budaya Indonesia, yang diharapkan dapat memotivasi dan mengangkat harkat para pengrajin batik serta mendukung usaha peningkatan kesejahteraan rakyat.

Meskipun negara lain juga mempunyai batik, namun dengan inskripsi oleh UNESCO ini secara langsung dunia internasional mengakui Batik Indonesia sebagai identitas rakyat Indonesia. Untuk itu, Batik Indonesia akan dilindungi oleh semua pihak terkait baik di dalam negeri maupun di dunia internasional melalui UNESCO.

Upaya agar Batik Indonesia diakui UNESCO ini melibatkan para pemangku kepentingan terkait dengan batik, baik dari pemerintah, para pengrajin, pakar, asosiasi pengusaha, yayasan/lembaga batik maupun masyarakat luas dalam penyusunan dokumen nominasi.

Perwakilan RI di negara-negara anggota Tim Juri (Subsidiary Body), yaitu di UAE, Turki, Estonia, Meksiko, Kenya dan Korea Selatan serta UNESCO-Paris, turut memegang peranan penting dalam melakukan lobi kepada para anggota tim itu sehingga mereka lebih seksama dalam mempelajari dokumen nominasi Batik Indonesia.

Bahkan, UNESCO mencatat Batik Indonesia dan satu usulan lain dari Spanyol sebagai dokumen nominasi terbaik dan dapat dijadikan contoh dalam proses nominasi mata budaya tak-benda di masa mendatang.

Upaya ini merupakan bentuk komitmen bagi Indonesia sebagai negara pihak Konvensi UNESCO tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda, yang telah berlaku sejak 2003 dan diratifikasi oleh 114 negara (Indonesia meratifikasinya tahun 2007).

Konvensi dimaksud menekankan perlunya perlindungan terhadap warisan budaya takbenda, antara lain tradisi bertutur dan berekspresi, ritual dan festival, kerajinan tangan, musik, tarian, pagelaran seni tradisional, dan kuliner.

Warisan yang masih hidup dan diturunkan dari generasi ke generasi ini memberikan identitas tersendiri dan keberlangsungan bagi komunitas/kelompok masyarakat, dan dianggap sebagai upaya untuk menghormati keanekaragaman budaya dan kreatifitas manusia.

UNESCO mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal.

Bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup kain batik dengan motif tertentu. Pakaian dengan corak sehari-hari dipakai secara rutin dalam kegiatan bisnis dan akademis.

Sementara itu berbagai corak lainnya dipakai dalam upacara pernikahan, kehamilan, juga dalam wayang dan berbagai penampilan kesenian. Kain batik bahkan memainkan peran utama dalam kegiatan ritual tertentu.

Corak Batik Indonesia menandakan adanya berbagai pengaruh dari luar mulai dari kaligrafi Arab, burung phoenix dari China, bunga cherry dari Jepang sampai burung merak dari India atau Persia.

Batik terkait dengan identitas budaya rakyat Indonesia dan melalui berbagai arti simbolik dari warna dan corak mengekspresikan kreativitas dan spiritual rakyat Indonesia.

Dalam menyiapkan nominasi, para pihak terkait telah melakukan berbagai aktivitas, termasuk melakukan penelitian di lapangan, pengkajian, seminar, dan sebagainya untuk mendiskusikan isi dokumen dan memperkaya informasi secara bebas dan terbuka. Di samping itu, pemerintah telah memasukkan Batik Indonesia ke dalam Daftar Inventaris Mata Budaya Indonesia.

UNESCO memasukkan Batik Indonesia ke dalam Representative List karena telah memenuhi kriteria, antara lain kaya dengan simbol-simbol dan filosofi kehidupan rakyat Indonesia; memberi kontribusi bagi terpeliharanya warisan budaya takbenda pada saat ini dan di masa mendatang.

Selanjutnya seluruh komponen masyarakat bersama pemerintah melakukan langkah-langkah secara berkesinambungan untuk melakukan perlindungan termasuk peningkatan kesadaran dan pengembangan kapasitas termasuk aktivitas pendidikan dan pelatihan.

Selain itu, UNESCO juga telah menetapkan Diklat Budaya Batik Indonesia untuk siswa sekolah bekerja sama dengan Museum Batik di Pekalongan dalam kategori ?Best Practices?, dan hanya tiga negara/kelompok negara yang masuk dalam kategori ini yaitu Spanyol dan negara-negara Amerika Tengah seperti Bolivia, Chile dan Peru.

Dengan pengakuan best practices ini, UNESCO berkewajiban pula untuk mempromosikan cara Indonesia dalam melestarikan warisan budaya tak benda kepada negara-negara anggota. Atas pencapaian Indonesia, beberapa negara peserta menyampaikan apresiasinya terhadap Indonesia dan berharap apa yang dilakukan oleh Indonesia dapat ditularkan ke negara-negara anggota.

Dengan demikian, selain Batik, Indonesia telah berhasil memasukkan dua warisan budaya lainnya ke dalam Daftar Inventaris Budaya Tak Benda Warisan Manusia yaitu Wayang dan Keris. Saat ini Indonesia juga sudah mengajukan angklung untuk masuk dalam daftar inventaris berikutnya yang akan dibahas tahun depan.

Menyusul keputusan UNESCO itu, permintaan kain batik di pasar Kota Solo terus naik menyusul dikukuhkannya batik

"Dengan pengukuhan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia jelas memberikan dampak yang baik bagi industri batik di Indonesia, tetapi juga perlu diikuti gerakan-gerakan lain yang sifatnya mendukung keberadaan batik itu sendiri," kata Bambang Slameto, pemilik PT Batik Merak Manis Solo.

Sejak adanya berita bahwa batik Indonesia ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, permintaan batik di pasar terus meningkat. "Di perusahaan kami ada kenaikan permintaan sampai 60 persen. Taflak meja batik misalnya, setiap hari biasanya hanya laku 2.000 lembar kini naik menjadi 5.000 lembar. Begitu juga untuk jenis lainnya seperti pakaian dan sprei," ujarnya.

Para karyawan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Banten, menggunakan pakaian batik Baduy yang didominasi motif hitam dan biru setelah pengakuan Unesco itu.

Penggunaan batik Baduy dan batik-batik dari daerah-daerah lain di Indonesia merupakan promosi kecintaan produk lokal. Dengan mengenakan batik, kaum pria tampak gagah dan kaum wanita terlihat cantik mempesona. [ antara.com ]



READ MORE - Ternyata Batik Memang Cantik

Putri Indonesia Terlalu Berani Mengenakan Bikini !!

Pakaian bikini yang dikenakan Putri Indonesia, Zivanna Lethisa Siregar di ajang Miss Universe mengundang kontroversi di kalangan warga Medan.

"Putri Indonesia terlalu berani mengenakan pakaian bikini. Padahal dalam pandangan umum masyarakat Indonesia yang dikenakannya itu keluar dari batas nilai kesopanan, apalagi untuk ukuran orang Medan," kata Maradoli Nasution, Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) kepada ANTARA di Medan, Rabu.

Menurut dia, pose Putri Indonesia di depan juri Miss Universe yang ditayangkan di televisi nasional sangat tidak pantas. Bikini tersebut seharusnya tidak dikenakan dengan alasan apa pun jika tujuannya benar-benar untuk membangun citra dan promosi Indonesia.

Tayangan televisi tentang pakaian bikini Putri Indonesia, lanjut dia, juga merupakan pendidikan yang buruk bagi anak bangsa ini. Sangat sulit menjelaskan secara rasional kepada masyarakat khususnya generasi muda untuk tidak larut dalam pola pikir kebebasan ala negara Barat saat menonton siaran televisi itu, katanya.

Dia mengharapkan, pemerintah mengkaji ulang kerangka berpikir tentang kepesertaan Putri Indonesia di ajang Miss Universe. Harusnya dikembalikan lagi kepada alasan dasar pengiriman Putri Indonesia di kontes wanita tercantik dunia yaitu promosi dan memperkenalkan kekayaan budaya.

Artinya tujuan dasar itu yang harus dikedepankan, bukan mengamini semua keinginan dewan juri yang jelas melanggar nilai yang dianut masyarakat Indonesia, katanya.

Pendapat berbeda dilontarkan W Pohan, warga Medan yang menilai pakaian bikini itu sah-sah saja karena bukan dimaksudkan untuk "menjual" tubuh. Menurut dia, bikini hanya satu sesi karena yang paling menentukan adalah kecerdasannya.

"Banyak yang cantik-cantik, tapi yang terpilih akhirnya mereka yang mampu menjawab pertanyaan dewan juri dengan cerdas," katanya.

Sementara pengamat sosial di Medan, Arifin Siregar mengatakan, wajar terjadi kontroversi di tengah masyarakat khususnya di Medan karena ada marga di belakang nama Putri Indonesia itu dan tidak semua menerima nilai-nilai Barat.

Untuk itu menurut dia, pemerintah harus mengkaji ulang tujuan pengiriman Putri Indonesia ke ajang ratu sejagad. Kalau tetap "ngotot" mengirimkan utusan ke ajang Miss Universe, harusnya dijelaskan kepada masyarakat sehingga tak mengundang kontroversi, katanya. [ Antara ]



READ MORE - Putri Indonesia Terlalu Berani Mengenakan Bikini !!